Monday, April 02, 2012

MRP dalam Inventory Management


Persediaan (Inventory) yakni stock bahan yang digunakan untuk memudahkan produksi (raw material ) atau untuk memuaskan permintaan pelanggan (finished good). { Roger G Schroeder 1994 ; 4}
Pengendalian Persediaan (Inventory Management) mempunyai 3 Fungsi  :
  1. Fungsi Antisipasi yakni mengantisipasi permintaan yang akan datang.
  2. Fungsi Decoupling yakni melingkupi fluktuasi permintaan tak terduga dalam produksi ataupun permintaan sales.
  3. Fungsi Economic Lot Sizing yakni mengambil keuntungan dari discon jumlah dan mengurangi biaya pengiriman karena kita membeli barang dalam jumlah besar daripada jumlah yang dibutuhkan saat itu.
 


Sistem Persediaan dipengaruhi oleh proses Incoming { P(t) } dan outgoing {W(t)}, dimana proses Outgoing demand dari sales { D(t) }.Berdasarkan Lalu Sumayang (2003) Independent Demand Inventory {FG} yakni persedian inventory yang tergantung permintaan pasar dan tdk tergantung produksi barang, sedangkan Demand Dependent  {RW} yakni demand inventory tergantung pada proses produksi berikutnya .
 
Ada 3 Metode Pengendalian Persediaan yakni :
1. Metode Pengendalian secara statistik (statistical Inventory Control --> deman Independent
Metode ini biasanya disebut metode tradisional (Wilson,1929) yang jadi focusnya adalah :
a. Berapa Jumlah Barang yang dipesan setiap pemesanan (EOQ)
b. Kapan Pemesanan Dilakukan (ROP)
c. Berapa Jumlah cadangan yang diperlukan (Safety Stock)
Metode ini biasanya menerapkan pola metode P dan metode permintaan Q, dimana :
# Metode P : Pemesanan mengikuti suatu periode tetap sedang qty berubah-ubah.
# Metode Q : pemesanan selalu qty nya yang tetap dan waktu pemesanan bervariasi.

2. Metode Perencanaan Kebutuhan Material (Material Requirement Planning /MRP) --> demand dependent
3. Metode Persediaan JIT (just In Time)
     Produksi JIT berarti Produksi massal dalam jumlah kecil dan segera digunakan.Dikenal sbg sistem kanban dimana produksi dilakukan berdasarkan permintaan actual ( Pull system)  


Pengertian Umum MRP 
    MRP berdasarkan Tampubolon (2004) yakni komputerisasi sistem persediaan seluruh bahan (RW , setengah jadi dan FG) yang dibutuhkan baik untuk perusahaan manufaktur maupun jasa .

 
Manfaat Sistem MRP 
1.Meminimumkan persediaan (inventory) dimana MRP menentukan brp kpn barang diproduksi. 
2.Meningkatkan efisiensi 
3.Mengurangi resiko karena keterlambatan produksi dan pengiriman.
Input Sistem MRP 
1.Jadwal Induk Produksi ( Master Production Schedule /MPS) . 
2.Struktur Produk ( Bill of Material ). 
3.Data Inventory ( Inventiry Record Files)
Output Sistem MRP 
1.Rencana pemesanan dan produksi yang dibuat berdasarkan lead time yang tepat. 
2.Merupakan Tindakan Pengendalian Persedian dan penjadwalan produksi 


 Langkah  Pengolahan 
 
       a. Netting  yakni  penentuan kebutuhan bersih
       b. Lotting  yakni  penetentuan ukuran lot / besar  pesanan  yg optimal berdasarkan    hasil perhitungan kebutuhan bersih ( netting) à EOQ
     c. Offsetting  yakni penentuan saat yang tepat untuk pemesanan barang dalam memenuhi nettingà ROP
      d. Explosion yakni perhitungan kebutuhan kotor untuk tingkat proses lebih kecil /rendah.

kesimpulan

Safety stock, merupakan stock pengaman yang diterapkan perencanaan MRP untuk mengantisipasi fluktuasi dalam permintaan dan /atau penawaran. Dalam kasus ini safety stock = minimal stock

Lead time, merupakan jangka waktu yang dibutuhkan sejak MRP menyarankan suatu pesanan sampai item yang dipesan siap untuk digunakan. Untuk penerapan ini mengunakan lead time berdasarkan kapasitas produksi selama sebulan jadi lead time = 1 bulan jika memakai metode Q

SOH (Stock On hand), yang menunjukan kuantitas dari item yang secara phisik ada dalam gudang. 

Maximal Stock, merupakan stock maximal yang bisa disimpan di dalam gudang storage.Untuk kasus perhitungan MRP ini mengunakan maximal stocknya untuk meng-cover stock selama 2 bulan, jadi max stock = 2 bulan

Minimal Stock, meripakan stock minimal yang harus tersedia di dalam storage gudang. Dalam penerapan MRP ini, minimal stocknya adalah buffer untuk proses produksi selama setengah average distrbusi

ROP (Re Order Point), yakni batas jumlah barang dimana MRP harus melakukan order/pemesanan barang lagi. Kasus ini menerapkan angka average distribusi ditambah safety stock

EOQ (Economic Order Quantity), yakni  jumlah yang harus dipesan/dibuat sehingga meminumkan total biaya  inventori. Kalkulasi angkanya dari Maximal stock dikurangi nilai safety stock.
 

3 comments:

vhanda said...

mau tanya neh..
bagaimana menentukan kebutuhan bahan baku untuk perusahaan percetakan jika kita ingin memesan bahan bahan baku ketika order datang sesuai kebutuhan saja jd inventory ditekan sekecil mungkin atau tidak ada on hand inventory..??
metode persediaan apa yg bisa digunakan..??

maaf sebelumnya n makasih...

Wiwin said...

kalau kita inginkan tdk ada stock inventory berarti memakai metode just in time (JIT), jadi barang di jadikan Finish good setelah ada pemesanan, jadi tidak ada biaya simpan, tetapi kita harus pinter-pinter menentukan biaya pesan sekecil mungkin jika nilai ordernya kecil.
Karena kalau perusahaan percetakan kan memang penjualan berdasarkan permintaan customer.
demikian semoga membantu ya :)

Old Blue Mild Steel Vernier Calipers said...

mau tanya..
ada banyak teknik lotting yg digunakan pada MRP.. bisa dijelasin ga apa aja tekniknya dan cara perhitungan tiap tekniknya? kalo bisa minta referensi buku atau webnya..
thanks.. :)