Persediaan (Inventory) yakni stock
bahan yang digunakan untuk memudahkan produksi (raw material ) atau untuk
memuaskan permintaan pelanggan (finished good). { Roger G Schroeder 1994
;
4}
Pengendalian Persediaan
(Inventory Management)
mempunyai 3 Fungsi :
- Fungsi Antisipasi yakni mengantisipasi permintaan yang akan datang.
- Fungsi Decoupling yakni melingkupi fluktuasi permintaan tak terduga dalam produksi ataupun permintaan sales.
- Fungsi Economic Lot Sizing yakni mengambil keuntungan dari discon jumlah dan mengurangi biaya pengiriman karena kita membeli barang dalam jumlah besar daripada jumlah yang dibutuhkan saat itu.
Sistem Persediaan dipengaruhi oleh proses Incoming { P(t) } dan outgoing {W(t)}, dimana proses Outgoing demand dari sales { D(t) }.Berdasarkan Lalu Sumayang (2003) Independent Demand Inventory {FG} yakni persedian inventory yang tergantung permintaan pasar dan tdk tergantung produksi barang, sedangkan Demand Dependent {RW} yakni demand inventory tergantung pada proses produksi berikutnya .
Ada 3 Metode Pengendalian
Persediaan yakni
:
1. Metode Pengendalian secara statistik (statistical Inventory Control --> deman Independent
Metode ini biasanya disebut metode tradisional (Wilson,1929) yang jadi focusnya adalah :
a. Berapa Jumlah Barang yang dipesan setiap pemesanan (EOQ)
b. Kapan Pemesanan Dilakukan (ROP)
c. Berapa Jumlah cadangan yang diperlukan (Safety Stock)
Metode ini biasanya menerapkan pola metode P dan metode permintaan Q, dimana :
# Metode P : Pemesanan mengikuti suatu periode tetap sedang qty berubah-ubah.
# Metode Q : pemesanan selalu qty nya yang tetap dan waktu pemesanan bervariasi.
2. Metode Perencanaan Kebutuhan Material (Material Requirement Planning /MRP) --> demand dependent
3. Metode Persediaan JIT (just In Time)
Produksi JIT berarti Produksi massal dalam jumlah kecil dan segera digunakan.Dikenal sbg sistem kanban dimana
produksi dilakukan berdasarkan permintaan actual ( Pull
system)
Pengertian Umum MRP
MRP berdasarkan Tampubolon (2004) yakni komputerisasi sistem persediaan seluruh bahan (RW , setengah jadi dan FG) yang dibutuhkan baik untuk perusahaan manufaktur maupun jasa .
• Manfaat Sistem
MRP
1.Meminimumkan persediaan (inventory) dimana MRP menentukan brp & kpn barang diproduksi.
2.Meningkatkan efisiensi
3.Mengurangi resiko karena keterlambatan produksi dan pengiriman.
1.Meminimumkan persediaan (inventory) dimana MRP menentukan brp & kpn barang diproduksi.
2.Meningkatkan efisiensi
3.Mengurangi resiko karena keterlambatan produksi dan pengiriman.
• Input Sistem
MRP
1.Jadwal Induk Produksi ( Master Production Schedule /MPS) .
2.Struktur Produk ( Bill of Material ).
3.Data Inventory ( Inventiry Record Files)
1.Jadwal Induk Produksi ( Master Production Schedule /MPS) .
2.Struktur Produk ( Bill of Material ).
3.Data Inventory ( Inventiry Record Files)
• Output
Sistem
MRP
1.Rencana pemesanan dan produksi yang dibuat berdasarkan lead time yang tepat.
2.Merupakan Tindakan Pengendalian Persedian dan penjadwalan produksi
Langkah Pengolahan
1.Rencana pemesanan dan produksi yang dibuat berdasarkan lead time yang tepat.
2.Merupakan Tindakan Pengendalian Persedian dan penjadwalan produksi
Langkah Pengolahan
a. Netting yakni penentuan kebutuhan bersih
b. Lotting yakni penetentuan ukuran lot / besar pesanan
yg optimal berdasarkan hasil perhitungan kebutuhan bersih ( netting) Ã EOQ
c. Offsetting yakni penentuan saat yang tepat untuk pemesanan barang dalam memenuhi nettingà ROP
d. Explosion yakni perhitungan kebutuhan kotor untuk tingkat proses lebih kecil
/rendah.
kesimpulan
Safety
stock,
merupakan stock pengaman yang diterapkan perencanaan MRP untuk mengantisipasi
fluktuasi dalam permintaan dan /atau penawaran. Dalam kasus ini safety stock =
minimal stock
Lead
time,
merupakan jangka waktu yang dibutuhkan sejak MRP menyarankan suatu pesanan
sampai item yang dipesan siap untuk digunakan. Untuk penerapan ini mengunakan
lead time berdasarkan kapasitas produksi selama sebulan jadi lead
time = 1 bulan jika memakai metode Q
SOH
(Stock On hand), yang
menunjukan kuantitas dari item yang secara phisik ada dalam gudang.
Maximal
Stock,
merupakan stock maximal yang bisa disimpan di dalam gudang storage.Untuk kasus
perhitungan MRP ini mengunakan maximal stocknya untuk meng-cover stock selama 2
bulan, jadi max stock = 2 bulan
Minimal
Stock, meripakan
stock minimal yang harus tersedia di dalam storage gudang. Dalam penerapan MRP
ini, minimal stocknya adalah buffer untuk proses produksi selama setengah
average distrbusi.
ROP
(Re Order Point), yakni
batas jumlah barang dimana MRP harus melakukan order/pemesanan barang lagi.
Kasus ini menerapkan angka average distribusi ditambah
safety stock
EOQ
(Economic Order Quantity), yakni jumlah yang harus dipesan/dibuat sehingga
meminumkan total biaya inventori.
Kalkulasi angkanya dari Maximal stock dikurangi nilai safety stock.





